• Hari ini : Selasa, 17 Juli 2018

Pulpis Siapkan Grand Design Cegah Karlahut

Gubernur Kunjungi Kebakaran
Gubernur Kunjungi Kebakaran

PULANG PISAU, KP – Guna mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan dan hutan (karlahut) tahun ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah akan melakukan upaya-upaya strategis.

Adapun upaya yang dilakukan, yaitu pemetaan daerah rawan kebakaran; penyuluhan/sosialisasi pencegahan dan penanggulangan Karlahut; membuat grand design strategi pencegahan dan penanganan Karlahut yang dimasukan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2016-2020.

Langkah lainnya juga juga dilakukan, yaitu inventarisasi kepemilikan lahan; pembangunan sumur bor dan bloking kanal/sekat kanal serta di daerah yang rawan kekeringan dan kebakaran; penyediaan sarana prasarana pendukung upaya penanggulangan Karlahut; intensifikasi pelibatan aparatur pemerintah, masyarakat dan pelaku usaha dalam upaya pencegahan Karlahut melalui edukasi dan sosialisasi.

“Paling penting lagi, upaya yang kita laksanakan adalah patroli terpadu yang terdiri dari TNI, Polri, Manggala Agni, dan komponen masyarakat. Untuk sumur bor kita rencanakan membangun 2.000 unit dengan rincian pemerintah 60% (1.200 unit), dengan rincian pusat 30% (600 unit), provinsi 10% (200 unit), kabupaten/kota 20% (400 unit),’’ kata Gubernur Kalteng, H. Sugianto Sabran dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kalteng, Sipet Herman pada acara Lounching 200 Unit Sumur Bor, Penyerahan Alat Pemadam Kebakaran, dan Sarasehan antara Badan Restorasi Gambut (BRG) dengan Masyarakat Peduli Asap (MPA) di Desa Pilang, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulpis, beberapa waktu lalu.

Sementara itu Bupati Pulpis, H. Edy Pratowo menyampaikan, tercatat 4 kebakaran di Kabupaten Pulpis pada 1 dekade terakhir, yaitu pada tahun 1994, 1997, 2002, 2007, dan 2015 yang melanda hutan alam, hutan konservasi, hutan desa, hutan untuk perkebunan, dan lahan terlantar serta lahan masyarakat.

Dapat dikatakan 99 persen penyebab kebakaran hutan dan lahan adalah akibat ulah manusia. Faktor alam yang juga turut mendukung, yaitu kemarau panjang, terjadinya gejala EL Nino, pasca pelaksanaan proyek lahan gambut (PLG) menyebabkan gambut yang biasa tergenang air menjadi kering dan mudah terbakar.

“Kebijakan Pemkab agar upaya pengelolaan gambut dan managemen pengendalian kebakaran terpadu dapat dilakukan secara optimal dan tidak tumpang tindih sudah dilaksanakan dengan baik,’’ kata H. Edy Pratowo.

Salah satu upaya penting itu dengan reduksi emisi dan deforestasi serta degradasi atau dikenal dengan REDD+. Selain itu melalui SKPD terkait juga telah membuat peta rawan kebakaran serta peta penempatan kolam tamping air (embung) dan sumur bor.

Saat ini juga sedang membangun 4 embung serta memasang sebanyak 184 sumur bor dan pengadaan mesin pemadam portebel. Demikian juga melalui UNDP yang bekerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pulpis dan Jumpun Pambelum telah melatih 40 orang MPA dari 10 desa yang dinilai rawan kebakaran hutan dan lahan (SGT/K-8)

Tag:,
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua