• Hari ini : Senin, 23 Juli 2018

Sahbirin Noor Dinilai Pantas Pimpin Golkar Kalsel

Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor bersama Sesepuh Golkar H Taufik Effendie. (KP/bandi)
Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor bersama Sesepuh Golkar H Taufik Effendie. (KP/bandi)

Banjarmasin, KP – H Sahbirin Noor tokoh yang akrab disapa Paman Birin dan sekarang menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) ini, dinilai sebagai figur paling pantas memimpin Partai Golkar di provinsi ini. Penilaian itu dilontarkan M Erham Amin SH MH, kader militan yang mengaku dibesarkan partai berlambang pohon beringin ini, dalam perbincangan di Banjarmasin, Senin (14/11). Menurut Erham, yang pernah menjabat anggota DPRD Kalsel dan DPR-RI dari Golkar ini, ke depan Golkar harus dipegang oleh figur yang benar-benar mumpuni, baik dari segi kekuasaan maupun dana.

“Menurut saya, figur yang paling pas adalah Paman Birin. Penilaian ini bukan karena kepentingan pribadi atau pun golongan, tapi demi kepentingan organisasi Golkar,’’ ujar mantan Ketua KNPI Kalsel periode 1991 -1994 ini. Dosen Fakultas Hukum ULM yang juga Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) ini mengatakan, sepeninggal HA Sulaiman HB ditambah adanya masalah dualisme kepengurusan di tingkat pusat yang merembet hingga ke daerah, Golkar di Kalsel memerlukan tokoh yang bisa mempersatukan kembali partai ini.

“Paman Birin sebagai tokoh pemegang kekuasaan di Provinsi Kalsel saat ini sangat diperlukan oleh Golkar, karena akan bisa mempersatukan kader-kader dan membesarkan Golkar,’’ ujarnya. “Jadi, saya sangat mendukung kalau memang Paman Birin maju untuk menjadi Ketua DPD Golkar. Tidak bisa dipungkiri, Golkar banyak memiliki kader-kader yang baik, tapi Paman Birin adalah terbaik di antara yang baik itu. Jadi sangat pantas kalau Golkar Kalsel dipimpin oleh tokoh yang saat ini memegang kekuasaan demi kebesaran Partai Golkar ke depan,’’ pungkas Erham Amin.

Sahbirin Tokoh Ideal di Tengah Polemik Partai
Mencuatnya nama Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor, sebagai calon Ketua DPD Partai Golkar Kalsel dianggap tepat. Pasalnya, di tengah polemik internal partai, pria yang akrap disapa Paman Birin itu, disebut-sebut sebagai tokoh yang bisa merangkul atau menyatukan semua pihak. Bahkan, kehadiran Paman Birin dianggap sebagai tokoh yang pas menjadi pengganti, selepas H Abdussamad Sulaiman HB mangkat. Sebab, sepeninggal Almarhum Haji Leman, Golkar seakan-akan kehilangan sosok ketokohan.

“Selepas meninggalnya H Leman Golkar kehilangan ketokohan, dilanjutkan H Hasnuryadi Sulaiman terlihat tidak diterima semua kalangan,’’ kata Pengamat Politik IAIN Antasari, DR Ani Cahyani, Senin (14/11). Selepas kepergian H Leman, lanjut Ani, terjadi konflik internal sehingga terjadilah pergantian kepemimpinan. Ani melihat, dengan masuknya Paman Birin sebagai calon ketua menjadi angin segar bagi partai.

“Sebagai sosok dan kapasitasnya gubernur sudah tentu Paman Birin bisa mendinginkan suasana internal partai. Memang pasti tidak semua bisa menerima. Tapi setidaknya mayoritas akan berpihak kepada beliau,’’ tuturnya. Memang, menurut Ani, Golkar mempunyai banyak tokoh dan sesepuh yang sudah lama menggeluti dunia politik. Akan tetapi sebutnya, untuk menyatukan semua elemen internal partai tersebut, saat ini tidak ada sosok selain Paman Birin.

Ia melihat, kepemimpinan Gt Iskandar yang menjabat Pelaksana Tugas Ketua DPD, juga tidak diterima banyak pihak. Malahan, ujarnya, banyak kalangan yang tidak menerima dengan keputusan penunjukan Gt Iskandar tersebut. Ia menambahkan, jika terus-terusan terjadi perpecahan, maka akan merugikan partai. Dikhawatirkan suara Golkar justru akan mengalami penurunan.

“Ini jadi tantangan ketua baru juga menyatukan semua kubu. Kalau terus-terusan pecah berpotensi menurunkan suara. Jadi, sangat tepat kalau Paman Birin yang memimpin untuk menyatukan semua pihak,’’ tandasnya. Seperti diketahui, ciri khas Partai Golkar adalah birokrasi.

Artinya, selama sejarah perpolitikan di tanah air partai belambang pohon beringin ini, selama terlibat di pemerintahan dan bukan menjadi oposisi. Atas dasar itulah, masuknya gubernur sebagai calon ketua sangat tepat mengembalikan citra Golkar. “Ciri khas Golkar itu di birokrasi, mereka tidak mau menjadi opisisi. Dengan masuknya gubernur sebagai bursa calon ketua, tentu sejalan dengan visi partai,’’ kata Ani. (tim/K-2)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua