• Hari ini : Senin, 20 Agustus 2018

Sembilan Diduga Pencandu Lem Digiring

Banjarmasin, KP – Sembilan diduga pencandu lem digiring polisi. Dari mereka tujuh orang pria dan dua perempuan, yang masih dibawa umur, Jum’at (18/8), sekitar pukul 15.30 WITA.

Semuanya digiring oleh anggota Polsekta Banjarmasin Tengah, saat berada di kawasan Cempaka Banjarmasin Tengah.

Semua, sedang asyik menghisap lem pada ruangan terbuka. Mereka yang diamankan dan empat orang dinyatakan dewasa antara lain M Rizky (18), warga Jalan Teluk Tiram Gang Palang Merah Banjarmasin Barat, M Yadi (22), warga Jalan Cempaka Raya RT 25 Banjarmasin Barat, Dicky (19), warga Jalan Banjar Raya Banjarmasin Barat, Agus Steveni (19), warga Jalan Simpang Jagung RT 57 Banjarmasin Barat.

Sedangkan yang dibawah umur berinisial MR (15), warga Jalan Telum Tiram Darat Banjarmasin Barat, MH (16), warga Jalan Teluk Tiram Gang Ampera 1 Banjarmasin Barat, AR (13), MD (14), warga Jalan Barito Hulu Gang Nurudin Banjarmasin Barat, PN (14), warga Jalan Bali Gang Telerama Banjarmasin Tengah.

Dimana dari sembilan orang yang diamankan ternyata dua orang dinyatakan positif menggunakan lem yaitu M Yadi dan MH.

Dari kronologis, pada waktu itu anggota menerima laporan dari sejumlah masyarakat, banyak anak-anak di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Melihat kedatangan petugas, mereka langsung berlarian meninggalkan TKP, dan anggota hanya bisa mengamankan sembilan orang.

Di Mapolsekta Banjarmasin Tengah, mereka smeua dilakukan pendataan dan akan dilakukan pemanggilan kepada orang tuanya.

Kapolsekta Banjarmasin Tengah, Kompol Wahyu Hidayat SIk melalui Kanit Reskrim, Ipda Achmad Doni Meidianto STK, membenarkan telah mengamankan terduga pencandu lem itu.

Ditambahkan, lem fox mengandung LSD (Lysergic Acid Diethilamide) dan zat adiktif lainnya yang berdampak terhadap pikiran, suasana hati, perasaan, halusinasi dan perilaku seseorang yg menghisapnya, dampak ini dikhawatirkan akan membuat kerusakan sel otak.

Para anak merupakan generasi penerus bangsa dan justru menimbulkan kerawanan munculnya perilaku yang menyimpang, bahkan mengarah ke tindak pidana.

“Pemakaian terus menerus akan membuat ketergantungan secara fisik maupun psikologis,’’ ujarnya. (fik/K-4)

loading...
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua