• Hari ini : Minggu, 23 September 2018

Waah, Harga Cabai Semakin ‘Pedas’

Harga sejumlah kebutuhan pokok sayuran asal tanah jawa di sejumlah pasar tradisional cendrung stabil kecuali cabai rawit yang mulai merangkak naik dipengaruhi kondisi curah hujan yang masih cukup tinggi saat ini dibeberapa sentra penghasil.
Harga sejumlah kebutuhan pokok sayuran asal tanah jawa di sejumlah pasar tradisional cendrung stabil kecuali cabai rawit yang mulai merangkak naik dipengaruhi kondisi curah hujan yang masih cukup tinggi saat ini dibeberapa sentra penghasil.

BANJARMASIN, KP – Anomali cuaca jelang akhir tahun dengan curah hujan yang turun cukup tinggi beberapa pekan ini di Bumi Antasari berdampak mulai merangkaknya harga cabai rawit yang dijual sejumlah pedagang hingga mencapai angka Rp50,000 perkilo.

Sebelumnya hanya dikisaran Rp30,000,- sampai Rp32,000,- kondisi ini sangat dikeluhkan ibu rumah tangga dan para pedagang sendiri.

Dari pengakuan sejumlah pedagang Pasar Lama dan Teluk Dalam Selasa (29/11) naiknya cabai-cabaian lokal dan asal Pulau Jawa karena pasokan yang mulai terganggu, karena dibeberapa sentra penghasil banyak yang gagal panen akibat curah hujan tinggi.

Nunung penjual sayuran dari Pasar Teluk Dalam menjelaskan kepada wartawan, naiknya harga cabai seperti ini para pedagang sangat dirugikan karena para pembeli mengeluhkan harga cabai naik terus dan penjualan menjadi menurun.

Saat ini pembeli ibu rumah tangga membeli secukupnya Rp2000 hingga Rp3000,- sedangkan para penjual makanan siap saji hanya membeli 1 hingga 1/2 kilo saja karena sambal yang ada mereka campur dengan cabai kemasan botolan supaya bisa ngirit.

Disebutkan Nunung, pasokan cabai rawit kecil dan tiung di Kota Banjarmasin ini biasanya dipasok dari Barabai dan Pelaihari namun karena sentra penghasil ini sedang gagal panen dan cabai banyak busuk sehingga panen mereka berkurang dari biasanya.

“Saya kira harga cabai ini tidak akan turun hingga akhir tahun apalagi sebentar lagi memasuki hari keagamaan Maulid Nani, Natalan anomali cuaca ini biasanya akan berlangsung lama hingga akhir tahun jika becermin tahun yang lalu.

Sani penjual cabai Pasar Teluk Dalam mengungkapkan, permintaan bumbu dapur masih cukup bagus meskpiun harganya cukup mahal seperti harga harga cabai Tiung dijual RpRp30,000,- per kilo, cabai Taji RP35,000, Cabai Kriting Rp40,000, dan cabai Hijau juga naik menjadi Rp30,000 per kilonya.

Menurutnya, curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan bumbu dapur cabai lekas busuk sehingga para pedagang tidak berani melakukan stok terlalu banyak seperti hari normal takut busuk.

“Kita akui permintaaan bumbu dapur bawang merah dan cabe rawit lokal sangat tinggi setiap harinya, apalagi memasuki bulan keagamaan,” jelasnya.

Selain permintaan cabai lokal juga tinggi untuk permintaan cabai tiung, cabe merah besar dan cabe hijau sangat besar permintaan setiap harinya, untuk komuditas ini didatangkan dari Pulau Jawa dengan angkutan kapal laut atau roro setiap harinya masuk.

70 persen pasokan sayuran asal banua dipasok dari Pulau Jawa sisanya pasokan petani kabupaten dan kota di banua enam sehingga sedikit saja pasokan terganggu harga akan melambung.

Sariah penjualan makanan dikawasan Kayu Tangi mengungkapkan, ia sangat terkejut setiap hari harga cabe rawit kembali melambung tinggi, padahal setiap hari ia memerlukan sekitar 1 kilo cabe rawit untuk sambel makan pelanggannya.

Untuk sementara disiasati dengan mencampur dengan cabai dalam kemasan botolan jadi atau dicampur dengan cabai ukuran besar tiung, agar pelanggannya yang kebanyakan mahasiswa tidak meninggalkan warungnya. (hif/K-7)

loading...
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua