• Hari ini : Jumat, 25 Mei 2018
  • 28 C

Warga Keluhkan Pangkalan Jual Elpiji 3 Kilo ke Spekulan

Sulitnya mendapatkan elpiji 3 kg dalam beberapa pekan terakhir ini membuat resah masyarakat. Senin (11/9), PT Pertamina persero menggelar operasi pasar di beberapa kelurahan, seperti di Kelurahan Karang Mekar dan Kuripan. Tampak dua orang ibu ini ingin antre membeli elpiji 3 kg di Halaman Kantor Kecamatan Banjarmasin Timur.

BANJARMASIN, KP – Sejak program konvensi minyak tanah ke gas elpiji digulirkan pemerintah, persoalan ketersediaan tabung elpiji 3 kg tampaknya terus saja melilit masyarakat.

Ulah para spekulan dan pangkalan, serta dialihkan kouta atau jatah Banjarmasin menerima bahan bakar bersubsidi ke daerah lain diduga menjadi salah satu penyebab sering langkanya kebutuhan bahan bakar itu.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah daerah di Kalsel, termasuk Kota Banjarmasin masyarakat kembali dibuat resah lantaran gas elpiji ukuran 3 kg yang selama ini sangat dibutuhkan untuk memasak seolah lenyap di pasaran.

Kalaupun ada, namun harga sekarang melonjak hampir 100 persen. Padahal dalam kondisi normal pertabung elpiji 3 kilogram biasanya dijual seharga Rp18.000 atau Rp20.000. Namun menyusul terjadinya kelangkaan dalam beberapa pekan terakhir dijual mencapai Rp30.000 hingga Rp35.000 pertabung.

Sejumlah agen dan warung yang selama ini menyediakan elpiji 3 kg memasang plang bertuliskan “gas 3 kg habis’’.

Saadiyah, salah seorang warga Komplek Mahligai Sejahtera, Kelurahan Sungai Jingah, Rabu sore (13/9) kemarin, yang sangat membutuhkan elpiji 3 kilogram harus dibuat kecewa.

Masalahnya, meski sudah mendatangi agen, pangkalan dan sejumlah warung dan berkeliling hampir dua jam, ia pulang dengan tangan hampa karena tidak ada yang menjual elpiji 3 kilogram.

“Bagaimana aku bisa memasak kalau gas elpiji sekarang kosong,’’ ujarnya sambil mengomel yang mengaku biasa membeli elpiji 3 kg pada sebuah pangkalan yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Menurut sejumlah ibu kepada KP, bahwa kelangkaan gas elpiji 3 kg ini bukan kali ini saja tapi sudah sering kali. Namun tidak ada tindakan kongkrit dari pemerintah untuk mengatasi.

Sementara kata seorang ibu bernama Radiatul menambahkan, jika menggunakan minyak tanah sekarang selain juga sulit didapatkan menyusul kebijakan konversi, harganya relatif mahal Rp8.000 perliter.

Hal ini tak lain lantaran dalam pendistribusian elpiji 3 kg secara nasional tidak terdapat kendala dan masalah.

Namun, harga dipasaran khususnya Banjarmasin sudah meroket naik hingga 100 persen. Biasanya dihargai Rp18.000 hingga Rp19.000 kini harganya mencapai Rp30.000 pertabung.

Sebelumnya, kedua warga yang tinggal di Komplek Mahligai Sultan Adam ini mengungkapkan meski ada dua buah pangkalan gas elpiji di sekitar tinggal mereka.

Namun, seringkali dikeluhkan karena gas elpiji lebih banyak didistribusikan atau dijual kepada para spekulan.

“Para spekulan yang membeli elpiji ke pangkalan yang ada di sekitar tempat tinggal kami ini biasanya dengan menggunakan mobil pick up dan gerobak, sehingga seringkali warga yang hendak membeli elpiji 3 kilogram sering tidak kebagian,’’ ujar warga.

Dikemukakan, kedatangan spekulan itu biasanya hanya beberapa saat setelah elpiji 3 kilogram tiba dan didatangkan ke pangkalan.

Anggota komisi II DPRD Kota Banjarmasin Andi Effendi SPd menilai, sejak program konversi minyak tanah ke elpiji digulirkan pemerintah pusat, pelaksanaannya di Banjarmasin tampaknya masih belum beres.

Padahal, ujarnya, masyarakat sudah terlanjur menggunakan tabung elpiji 3 kg tersebut.

Menyinggung apakah terjadi kelangkaan akibat konversi minyak tanah ke elpiji di seluruh kabupaten/kota belum tuntas ? sehingga jatah elpiji 3 kilogram dialihkan ke daerah yang belum konversi.

Anggota dewan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) ini mengatakan, mungkin saja dugaan itu ada benarnya.

“Meski hal itu tidak terlalu banyak berpengaruh. Kenapa karena saya yakin terjadinya kelangkaan elpiji 3 kilogram ini kemungkinan besar akibat ulah para spekulan dan pangkalan,’’ ujarnya.

Menurutnya, menyikapi kebutuhan utama bahan bakar tersebut, Pemko Banjarmasin maupun Pemprov Kalsel, terlebih khusus pihak Pertamina mestinya harus cepat merespon terjadi kelangkaan tersebut.

Andi Effendi juga berharap, harus ada regulasi yang tegas dari Pertamina maupun dari Pemko Banjarmasin, sehingga tidak ada lagi masyarakat kesulitan mendapat elpiji 3 kg.

Apalagi kuota distribusi dari Pertamina masih normal dan tidak ada kendala beberapa waktu terakhir.

Sekedar menjadi catatan, untuk mengatasi stok gas elpiji 3 kg di Kota Banjarmasin dan sekitarnya, pihak Pertamina sekitar dua bulan lalu mengklaim telah menambah pasokan sekitar 85 tabung elpiji 3 kilo ke seluruh kabupate/kota di Kalsel, sehingga dengan penambahan itu seyogianya tidak ada lagi masyarakat yang kesulitan mendapat gas elpiji 3 Kg di tingkat pangkalan dan pengecer. (nid/K-5)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua