• Hari ini : Senin, 11 Desember 2017

Warga Menolak Fanlegla Digiring ke Polda

Ilustrasi. (google)

Barabai, KP -Suasana haru mewarnai pers release kasus penembakan dua orang penyetrum di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Rabu (30/8). Puluhan warga Desa Kayu Rabah Kecamatan Pandawan menangis saat Bharatu Fanlegla ingin dibawa ke polda kalsel.

Puluhan warga tak kuasa menahan air mata saat Kapolda Kalsel Brigjend Polisi Rachmat Mulyana meminta keterangan warga Desa Kayu rabah yang ikut berpatroli di sungai. Saat ditanya salah satu warga bernama Hamdi menjawab, dia tak rela jika Fanlegla ditangkap karena melindungi mereka.

Dia juga menjelaskan jika tanpa petugas Sat Polair saat itu mungkin mereka semua sudah tewas diserang oleh puluhan penyetrum.

“Kalau Fanlegla dibawa ke Polda Kalsel kami semua akan ikut ke Polda, kalau dipenjara kami juga ikut, kalau tidak muat kami tidur di luarnya tidak apa-apa juga yang penting petugas ini tidak ditahan atau dihukum karena berbuat baik dan menjalankan tugas melindungi masyarakat,’’ ujar Hamdi.

Saat Bharatu Fanlegla dihadirkan keruangan pertemuan tersebut, warga yang sudah berkumpul langsung memeluk Fanlegla dan isak tangispun terjadi. Hal itu karena petugas ini pahlawan bagi mereka. “Jika tidak ada petugas ini mungkin kami tidak ada disini lagi dan tidak bertemu keluarga lagi,’’ tutur Hamdi lagi.

Hamdi juga menambahkan dirinya dan puluhan rekanya yang lain ditugaskan oleh Dinas Perikanan sebagai kelompok pengawas perikanan mendampingi polair dalam bertugas berpatroli baik siang maupun malam hari.

Hamdi juga menjelaskan Kronologis kejadian pada saat itu. Patroli satu kelompok 9 orang dipimpin langsung oleh Bharatu Panlegla, saat sampai di tikungan sungai ada satu perahu sedang menyetrum dengan mengunakan genset dan sempat ditembak peringatan ke atas dan penyetrum kabur.

Tidak lama ada lagi melihat 7 perahu yang terikat di pinggir sungai saat mau dibawa keluar para penyetrum langsung mengangkat parang. Sambil mengatakan letakan senjata kalian kepada petugas, dan petugas lagi-lagi memberi peringatan tembakan ke atas agar penyetrum ini mundur.

Diluar dugaan malah semakin maju sekitar 30 orang, sampai hampir habis satu magazin peluru yang ditembakan ke atas namun penyetrum ini tetap maju terus sambil meangkat parang.

Jarak sekitar satu meter lebih untuk menyelamatkan diri dan petugas kelompok terpaksa melepaskan tembakan ke paha Arbaim dan Ibrahim. Meski roboh, Arbain tetap mencoba bangkit mau menyerang lagi. Dan satu lagi peluru mengenai paha atas.

Hamdi juga mengatakan pihaknya saat itu melihat dua orang ini roboh mencoba menolong dan tidak ingat lagi dengan beberapa unit perahu di tempat itu dan ada apa aja di dalamnya. Kedua orang itu saat dilarikan ke RSUD H Damanhuri Barabai masih hidup. (ary/K-4)

 

Tag:
%d blogger menyukai ini: