• Hari ini : Jumat, 19 Oktober 2018

Warga Tamiang Layang Tolak Dilanjutkan Survei Seismik 2D Pertamina

TAMIYANG LAYANG, KP — Warga RT 5C, Ermi mengatakan, rumahnya yang berada di komplek perumahan pondok karet ikut terkena dampak blasting atau peledakan. Akibatnya, mengalami retak dibagian dinding.

“Hal ini juga dialami warga satu komplek. Dan lebih parah lagi, sumur gali diduga juga ikut terkena dampak. Debit air sumur mendadak turun berkisar satu meter usai dilakukan peledakan.
Untuk itu, saya minta aktivitas dihentikan,” kata Ermi menyampaikan keluh kesahnyaa diaula kantor kecamatan Dusun Timur, RAabu ( 3/10 )

Menurutnya, kegiatan seismik untuk mengetahui cadangan minyak saat ini banyak merugikan masyarakat. Harusnya, tujuan pembangunan tidaklah boleh merugikan masyarakat.

Hal serupa juga disampaikan mantan Sekda Bartim selaku Ketua SMK Jajaka Bartim, Bandju T Mangko, bahwa aktivitas seismik yang saat ini telah membor dan menanam bahan peledak yang tidak jauh dari lokasi bangunan berlantai 2 SMK Jajaka.

“Saya minta hentikan. Jarak antara titik lokasi penanaman bahan peledak dengan sekolah tidak jauh. Ini akan berdamak negatif dan menggangu,” katanya.

Bandju menilai, rumahbwarga yang keluar dari jarak radius aman juga mengalami keretakan pada dinding rumah. Tidak ada jaminan kalau peledakan dilanjutkan dan bisa bersampak pada bangunan SMK Jajaka.

Warga RT 1A Tamiang Layang, Surya Ahmadi mengatakan, jarak rumahnya dengan lokasi titik peledakan sekitar 800 meter. Namun tetap terkena dampak.

“Sosialisasi ini tidak efektif karena tidak dihadiri para ketua RT Tamiang Layang. Selain itu, warga yang hadir pun sedikit. Artinya, tidak disampaikan secara serius kepada masyarakat,” katanya.

Sementara itu Humas PT Scofindo Hendro didampingi perwakilan PT Komodo Energy Babai Tanjung Ltd, Nurdin Pramoni mengatakan, bagi warga yang terdampak bisa menyampaikan keluhannya dengan dilengkapi dokumentasi keretakannya di rumah masing-masing.

“Sampaikan secara berjenjang mulai dari RT hingga kecamatan. Nanti akan dilakukan peninjauan oleh tim dari Dinas
PUPR Bartim yang akan meninjaunya. Segala kerusakan akan ditanggungjawab,” kata Hendro.

Menurutnya, peledakan yangbdilakukan pihaknya menggunakan bahan jelly, tidak seperti dinamit, sehingga hasil yang dikeluarkan adalah gelombang yang akan direkam.

“Kalau dinamit bersifat desktroktif atau merusak. Semantara kita menggunakan bahan jell. Kalau dinamit harus diledakkan dengan jarak aman sedangkan peledak berbahan jell tidak demikian. Berkaitan dampak tanam tumbuh telah dilakukan penelitian bersama Institit Tekenologi Bandung (ITB). Sedangkan berdampak pada sumur gali, hal ini baru dan akan kita pelajari,” jelasnya.

Bagi yang terkena dampak bisa melakukan klaim disertai foto dan dokumen yang diperlukan. Sedangkan penghentian aktivitas, akan dilaporkan ke manajemen yang lebih tinggi.

Menurutnya juga, pihaknya juga telah mendapatkan dokumen UKL dan UPL serta perijinan lainnya dari Dinas Lingkungan Hidup Bartim.( Vna/k-8 )

loading...
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua